Rasa ketertarikan dengan aktifitas organisasi mungkin dimulai sejak kelas 5-6 SD/MI ketika aku sering bertanya tentang aktifitas guru-guruku diluar kewajiban mereka mengajar di sekolahku. Kondisi seperti itu masih terbawa ketika aku melanjutkan pendidikan ke MTsN Palangkaraya, aku begitu kagum melihat guru-guru muda yang selain mengajar juga sibuk dengan kuliah dan aktifitas lain mereka di organisasi. Aku kemudian banyak belajar secara tidak langsung dari mereka melalui obrolan-obrolan atau cerita yang mereka sampaikan kepadaku tentang manfaat dan serunya aktif di organisasi.
Tahun 1986, ketika duduk di Kelas II MTsN Palangkaraya, aku terpilih menjadi Ketua OSIS MTsN Palangkaraya. Bagiku, itu adalah pengalaman organisasi formalku yang pertama sehingga segala sesuatunya serba baru belajar meskipun aku pernah tahu sebelumnya karena ketika kelas I pun aku sudah termasuk aktif di kegiatan OSIS sekolahku.
Berorganisasi di sekolah lanjutan pertama memang tidak terlalu memberikan kesan khusus bagiku karena sejujurnya kita lebih banyak diarahkan oleh pembina atau guru kita karena tingkatan usia kita masih sangat muda dan belum begitu paham fungsi dan mekanisme organisasi. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pun masih bersifat rutinitas seperti kegiatan sebelumnya semisal peringatan hari besar Islam ataupun hari besar nasional, mengadakan class meeting, mengurus persiapan upacara bendera dan sejenisnya serta mempersiapkan utusan-utusan sekolah untuk lomba di luar sekolah atau kegiatan lain di luar sekolah. Tetapi dari pengalaman itulah aku banyak belajar dari guru-guruku yang ikut membimbing dan membina kami di OSIS sebagai bekal dan bahan pijakan untuk pengembangan kegiatan atau aktifitas kami di kemudian hari.
Tahun 1988 aku melanjutkan sekolah ke Yogyakarta. Pada awalnya aku hanya berusaha ikut aktif kegiatan yang diselenggarakan sekolah seperti kegiatan-kegiatan OSIS dan Pramuka dan ikut kumpul-kumpul di organisasi IPNU-IPPNU Anak Cabang Gondokusuman yang bermarkas di MAN Yogyakarta 1. Pilihan untuk lebih aktif di organisasi muncul setelah aku merasa "kalah" bersaing memperebutkan rangking prestasi di kelas. Betapa tidak, aku yang sejak di kelas I hingga kelas III MTs, selalu berhasil memperoleh rangking, ternyata begitu masuk ke Yogyakarta dan berkumpul dengan lulusan-lulusan terbaik dari MTs berbagai daerah, ternyata begitu susah memperoleh rangking 5 besar sekalipun, padahal menurutku aku sudah berusaha belajar lebih giat dan lebih keras dari pada ketika aku masih di Palangkaraya dulu.
Setelah pembagian raport Semester I rangkingku ada di posisi 18 dari 40 siswa sekelas, aku memutuskan, kalau aku kalah dalam prestasi belajar di kelas, aku harus berusaha mempunyai "keunggulan" di sisi lain yang mungkin masih bisa aku lakukan. Dan pilihanku adalah untuk berorganisasi sebagai bekal tambahan 'kelemahan"ku di bidang study. Sejak saat itulah, mulai semester II aku lebih aktif lagi dalam kegiatan organisasi, apapun kegiatan organisasi yang aku ikuti, berusaha aku seriusi dan tekuni, meskipun tetap tidak mengabaikan kewajiban utama sebagai pelajar yang harus tetap belajar dan belajar secara formal. Aku kemudian lebih aktif lagi di kegiatan OSIS, Pramuka, IPNU, kegiatan-kegiatan sekolah seperti baris-berbarispun aku ikuti dengan serius agar bisa memperoleh nilai lebih untuk menutupi kekuranganku di bidang pelajaran formal.
Tahun 1989, aku terpilih menjadi salah satu Badan Pengurus Harian (BPH) OSIS Nurul Jadid MAN Yogyakarta 1 Periode 1989-1990 sebagai Ketua I, sedangkan Ketua Umumnya adalah M. Izzuddin, teman sekelasku yang menduduki rangking I di kelasku. Setelah hampir satu tahun digembleng dengan berbagai bekal pelatihan dan kegiatan selama di kelas I, di kelas II ketika menjadi OSIS itulah aku benar-benar berusaha mempraktekkan semua ketrampilan dan kemampuan organisasi yang aku pelajari selama ini. Dan sejujurnya aku katakan bahwa aktifitasku di MAN Yogyakarta 1 itu adalah puncak pelajaran dan pelatihanku dalam berorganisasi, terutama dalam hal kedisiplinan, ketertiban dalam berorganisasi, dalam hal pertanggungjawaban kegiatan maupun keuangan yang begitu ketat dan disiplin yang kemudian menjadi modal penting dan sangat berharga untuk aktifitas organisasiku di kemudian hari di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di masa itulah aku mulai mengenal, belajar hingga mempraktekkan dan mengaplikasikan nilai-nilai kepemimpinan, human relations, tata tertib berorganisasi, surat-menyurat, membuat proposal kegiatan, mempersiapkan kegiatan hingga melaksanakan dan mempertanggungjawabkan aktifitas yang kita laksanakan secara detail. Jiwa, sikap mental dan perilaku kita benar-benar diasah dan diuji secara langsung dalam berbagai kegiatan yang kita rencanakan, kita laksanakan dan kita pertanggungjawabkan serta kita evaluasi secara mandiri.
No comments:
Post a Comment