Monday, October 22, 2012

Aktifitasku di Organisasi


Setelah hampir tiga tahun bergelut dengan berbagai aktifitas organisasi selama sekolah di MAN Yogyakarta 1, tahun 1991 aku lulus dan melanjutkan kuliah di Jurusan Peradilan Agama Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Karena aktifitas organisasi seakan sudah mendarah daging dalam kehidupanku, sejak masuk IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pun aku terus melanjutkannya. Sejak masa Ospek, aku sudah mulai ikut aktif di tingkat Fakultas, terutama di organisasi intra kampus. Di akhir tahun 1991 itu pula aku ikut Latihan Kader Dasar (LKD) –sekarang istilahnya jadi PKD, Pelatihan Kader Dasar—untuk bergabung menjadi anggota baru organisasi ektra kampus PMII Rayon Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga dan diakhir pelatihan aku terpilih menjadi Sekretaris Korp Alumni Pelatihan tersebut.

Tahun 1992 aku semakin aktif di kegiatan kampus dan menjadi anggota Kelompok Studi dan Bantuan Hukum (KSBH) Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga. Di tahun 1992 itu pula aku banyak “berguru” kepada para senior di PMII yang sedang sibuk mempersiapkan Pemilu Mahasiswa untuk pertama kalinya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta setelah sekian lama fakum kepengurusan organisasi kemahasiswaannya secara formal. Hampir setiap rapat koordinasi di Kombes (sekretariat bersama, dulu) aku selalu berusaha ikut hadir walaupun cuma untuk sekedar “mendengarkan” mengingat statusku yang masih “bayi” untuk tingkatan mahasiswa, karena baru semster II. Tapi justru dari pengalamanku secara langsung bergumul dengan para senior itulah yang dikemudian hari menjadi bekal yang sangat berharga dan pengetahuan yang tak ternilai harganya ketika aku terjun langsung dalam menghadapi dinamika kehidupan kampus di tahun-tahun berikutnya.

Sejak Pemilu Mahasiswa tahun 1992 itu aktifitasku tidak lagi sebatas di Fakultas Syari’ah, tetapi juga ikut aktif di kegiatan-kegiatan di tingkat Institut “membantu” para pengurus baru Senat Mahasiswa Institut (SMI) yang baru terpilih dan terbentuk. Tahun 1992  itu juga aku ikut bergabung menjadi anggota Ikatan Mahasiswa Syari’ah Indonesia yang menyelenggarakan berbagai kegiatan di kampus putih ketika itu.

Sementara di PMII aku dijadikan bendahara Rayon PMII Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Periode 1992-1993, setahun kemudian, untuk Periode 1993-1994 aku terpilih menjadi Ketua Rayon PMII Fakultas Syari’ah dengan agenda besar adalah mempersiapkan kader-kader terbaik PMII untuk Pemilu Mahasiswa tahun 1994 disamping berbagai agenda rutin lainnya terutama pelaksanaan LKD.

Tahun 1993 aku bergabung dengan OG. Al-Jami’ah, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang mewadahi mahasiswa-mahasiswi yang mempunyai kegemaran, bakat dan minat di bidang musik, khususnya musik kasidah dan dangdut di kampus putih.

Tahun 1994 melalui Pemilu Mahasiswa aku terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa Institut (SMI) IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk Periode 1994-1996 hasil kerja keras teman-teman PMII Komisariat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama seluruh Pengurus Rayon PMII di masing-masing Fakultas. Di tingkat rayon, kepengurusan Rayon PMII Fakultas Syari’ah juga berhasil mengantarkan kader-kader terbaiknya ketika itu seperti Zaini Rahman, Andy Syarifuddin, Anang Chairul Mujab, Abd Fattach, Nur Hasyim (Boim) dll, untuk memenangkan pertarungan di Pemilu Mahasiswa tersebut dan menduduki hampir seluruh jabatan strategis di organisasi kemahasiswaan di tingkat Fakultas maupun Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di masing-masing Jurusan.

Dapat dikatakan sejak tahun 1993 hingga diakhir kepengurusan tahun 1996, aktifitasku selain kuliah ada di tiga organisasi utama, yaitu PMII untuk kegiatan ekstra kampus, SMI untuk intra kampus dan OG. Al-Jami’ah untuk pengembangan bakat dan kegemaran, di samping berbagai macam organisasi atau kumpulan lain di tingkat Fakultas maupun Institut.

Tahun 1996-1997 aku didaulat untuk menjadi Ketua UKM OG. Al-Jami’ah sambil berangsur-angsur mengurangi aktifitasku di organisasi, baik di PMII maupun intra kampus untuk lebih memfokuskan penyelesaian kuliahku.

Berbagai macam cerita, pengalaman, suka-duka, pahit manisnya organisasi telah aku rasakan dan aku alami selama menjadi mahasiswa, mulai tahun 1992, terutama sejak tahun 1993 hingga 1997, bahkan sampai tahun 1998 ketika Indonesia bergejolak pun jiwa aktifis kita kembali bangkit untuk mendampingi teman-teman kita di organisasi formal. Namun dari sekian banyak peristiwa semasa menjadi aktifis kegiatan kemahasiswaan, paling tidak ada tiga peristiwa penting yang aku terlibat secara langsung dan sedikit banyaknya ikut mempengaruhi langkah kehidupanku di masa berikutnya.

Tahun 1992 : Demonstrasi besar-besaran di Kampus Putih IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ketika SMI dipimpin oleh Al-Zastrouw Ng. Melalui demonstrasi tersebut kemudian mahasiswa berhasil menduduki Kantor Rektorat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan membatalkan jadwa ujian semester dengan salah satu aksinya adalah meng-alteko seluruh gembok/kunci ruang kelas, atau ruang perkuliahan sehingga tidak bisa dibuka dan ujian semester terpaksa dibatalkan.

Tahun 1996 : Pengurus SMI Periode 1994-1996 melakukan gugatan class action menggugat Rektor IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ke PTUN atas kesemrawutan pengumuman dan penerimaan mahasiswa baru IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 1996-1997. Aksi SMI tersebut mendapat dukungan secara penuh dari PMII Komisariat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang saat itu Ketua-nya adalah Suswati (Ushuluddin, sekarang istri Kang Jadul Maula). Beberapa kali SMI bertemu langsung dengan pihak Rektorat di Sidang PTUN Semarang dan sejak saat itulah hubungan antara SMI dengan Rektorat menjadi buruk dan kisruh.

Tahun 1997 : Aku bergabung ke komunitas musik Ki Ageng Ganjur yang dibentuk oleh Al-Zastrouw Ng bersama beberapa teman, kemudian hampir sepanjang tahun 1997-1998 dengan group musik tersebut melakukan Istighotsah keliling ke berbagai daerah menyikapi perkembangan sosial politik kebangsaan yang semakin panas dan semrawut hingga akhirnya meletus peristiwa 27 Juli 1998.

Tiga peristiwa itulah yang sedikit banyaknya ikut mempengaruhi perjalanan hidupku, saat itu maupun untuk kehidupan yang akan datang. Peristiwa tahun 1992 membentuk kesadaran jiwa dan semangat aktifisku untuk terus berjuang dan bergelut di dunia organisasi kemahasiswaan, kemudian tahun 1996 menjadikan aku sebagai salah satu orang atau musuh utama Rektorat yang seakan mencoreng rumah sendiri dan secara tidak langsung aku dimasukkan daftar hitam untuk berbagai aktifitas di masa berikutnya, sedangkan peristiwa tahun 1997 adalah titik balik perubahan jalur kehidupanku dari hingar-bingar politik kampus, organisasi  dan segala dinamikanya beralih ke dunia baru melalui jalur musik dan kebudayaan sebagai media perjuangan dan kehidupan. Mungkin itu merupakan buah dari aktifitasku di tiga organisasi berbeda dulu, PMII di Ekstra, SMI di Intra dan OGA di bakat minat dan kegemaran.....Wallahu a’lam.

Thursday, October 18, 2012

Perkenalanku Dengan Organisasi

Rasa ketertarikan dengan aktifitas organisasi mungkin dimulai sejak kelas 5-6 SD/MI ketika aku sering bertanya tentang aktifitas guru-guruku diluar kewajiban mereka mengajar di sekolahku. Kondisi seperti itu masih terbawa ketika aku melanjutkan pendidikan ke MTsN Palangkaraya, aku begitu kagum melihat guru-guru muda yang selain mengajar juga sibuk dengan kuliah dan aktifitas lain mereka di organisasi. Aku kemudian banyak belajar secara tidak langsung dari mereka melalui obrolan-obrolan atau cerita yang mereka sampaikan kepadaku tentang manfaat dan serunya aktif di organisasi.

Tahun 1986, ketika duduk di Kelas II MTsN Palangkaraya, aku terpilih menjadi Ketua OSIS MTsN Palangkaraya. Bagiku, itu adalah pengalaman organisasi formalku yang pertama sehingga segala sesuatunya serba baru belajar meskipun aku pernah tahu sebelumnya karena ketika kelas I pun aku sudah termasuk aktif di kegiatan OSIS sekolahku.

Berorganisasi di sekolah lanjutan pertama memang tidak terlalu memberikan kesan khusus bagiku karena sejujurnya kita lebih banyak diarahkan oleh pembina atau guru kita karena tingkatan usia kita masih sangat muda dan belum begitu paham fungsi dan mekanisme organisasi. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pun masih bersifat rutinitas seperti kegiatan sebelumnya semisal peringatan hari besar Islam ataupun hari besar nasional, mengadakan class meeting, mengurus persiapan upacara bendera dan sejenisnya serta mempersiapkan utusan-utusan sekolah untuk lomba di luar sekolah atau kegiatan lain di luar sekolah. Tetapi dari pengalaman itulah aku banyak belajar dari guru-guruku yang ikut membimbing dan membina kami di OSIS sebagai bekal dan bahan pijakan untuk pengembangan kegiatan atau aktifitas kami di kemudian hari.

Tahun 1988 aku melanjutkan sekolah ke Yogyakarta. Pada awalnya aku hanya berusaha ikut aktif kegiatan yang diselenggarakan sekolah seperti kegiatan-kegiatan OSIS dan Pramuka dan ikut kumpul-kumpul di organisasi IPNU-IPPNU Anak Cabang Gondokusuman yang bermarkas di MAN Yogyakarta 1. Pilihan untuk lebih aktif di organisasi muncul setelah aku merasa "kalah" bersaing memperebutkan rangking prestasi di kelas. Betapa tidak, aku yang sejak di kelas I hingga kelas III MTs, selalu berhasil memperoleh rangking, ternyata begitu masuk ke Yogyakarta dan berkumpul dengan lulusan-lulusan terbaik dari MTs berbagai daerah, ternyata begitu susah memperoleh rangking 5 besar sekalipun, padahal menurutku aku sudah berusaha belajar lebih giat dan lebih keras dari pada ketika aku masih di Palangkaraya dulu.

Setelah pembagian raport Semester I rangkingku ada di posisi 18 dari 40 siswa sekelas, aku memutuskan, kalau aku kalah dalam prestasi belajar di kelas, aku harus berusaha mempunyai "keunggulan" di sisi lain yang mungkin masih bisa aku lakukan. Dan pilihanku adalah untuk berorganisasi sebagai bekal tambahan 'kelemahan"ku di bidang study. Sejak saat itulah, mulai semester II aku lebih aktif lagi dalam kegiatan organisasi, apapun kegiatan organisasi yang aku ikuti, berusaha aku seriusi dan tekuni, meskipun tetap tidak mengabaikan kewajiban utama sebagai pelajar yang harus tetap belajar dan belajar secara formal. Aku kemudian lebih aktif lagi di kegiatan OSIS, Pramuka, IPNU, kegiatan-kegiatan sekolah seperti baris-berbarispun aku ikuti dengan serius agar bisa memperoleh nilai lebih untuk menutupi kekuranganku di bidang pelajaran formal.

Tahun 1989, aku terpilih menjadi salah satu Badan Pengurus Harian (BPH) OSIS Nurul Jadid MAN Yogyakarta 1 Periode 1989-1990 sebagai Ketua I, sedangkan Ketua Umumnya adalah M. Izzuddin, teman sekelasku yang menduduki rangking I di kelasku. Setelah hampir satu tahun digembleng dengan berbagai bekal pelatihan dan kegiatan selama di kelas I, di kelas II ketika menjadi OSIS itulah aku benar-benar berusaha mempraktekkan semua ketrampilan dan kemampuan organisasi yang aku pelajari selama ini. Dan sejujurnya aku katakan bahwa aktifitasku di MAN Yogyakarta 1 itu adalah puncak pelajaran dan pelatihanku dalam berorganisasi, terutama dalam hal kedisiplinan, ketertiban dalam berorganisasi, dalam hal pertanggungjawaban kegiatan maupun keuangan yang begitu ketat dan disiplin yang kemudian menjadi modal penting dan sangat berharga untuk aktifitas organisasiku di kemudian hari di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di masa itulah aku mulai mengenal, belajar hingga mempraktekkan dan mengaplikasikan nilai-nilai kepemimpinan, human relations, tata tertib berorganisasi, surat-menyurat, membuat proposal kegiatan, mempersiapkan kegiatan hingga melaksanakan dan mempertanggungjawabkan aktifitas yang kita laksanakan secara detail. Jiwa, sikap mental dan perilaku kita benar-benar diasah dan diuji secara langsung dalam berbagai kegiatan yang kita rencanakan, kita laksanakan dan kita pertanggungjawabkan serta kita evaluasi secara mandiri.


Tuesday, October 16, 2012

Akhlaq Islam (Catatan Pelajaran Agustus 1988)


Untuk menjelaskan betapa pentingnya akhlaq dalam kehidupan orang Islam telah diungkapkan Nabi Muhammad Saw. melalui sabdanya :
 إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلأق “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”.

 Selain itu, juga ada ungkapan syair Arab :
“ Innama al-umama al-akhlaaqu maa baqiyanu, fain humuw dzahabat akhlaaquhum dzahabuu “ yang artinya : “Ssesungguhnya suatu ummat atau bangsa itu tetap jaya selama mereka berakhlaq, kalau akhlaq mereka hilang, merekapun akan lenyap”

Akhalq Islam bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul karena pada diri Rasulullah Saw itu terdapat teladan yang terpuji (QS. Al-Ahzab : 21)

Tujuan Akhlaq adalah :

  1. Terbentuknya pribadi yang mulia, karena dijiwai oleh sifat-sifat terpuji, bersih dari sifat-sifat buruk.
  2. Tercapainya kebahagiaan dan kesejahteraan lahir batin di dunia dan akhirat
Beberapa keunggulan akhlaq Islamiyah :

  1. Disiplin moralnya sangat kuat dan ketat karena segala sesuatu diketahui Allah (QS. Al-An’am : 59)
  2. Islam mengajarkan bahwa seseorang hanya akan menerima/memperoleh ganjaran (pahala) sesuai dengan apa yang dilakukannya (QS. An-Najm : 49 dan QS. Fathir : 18)
  3. Standard moralnya absolut (mutlak) dan universal karena bukan buatan manusia
  4. Akhlaq Islamiyah tidak hanya mementingkan kehidupan akhirat saja, tetapi juga kehidupan keduniaan (QS. Al-Qashash : 77 dan Al-A’raaf : 33)
  5. Kekuatan moralnya (moral force) amat kuat karena berdasarkan iman. Akhlaqul karimah adalah buah dari iman.

Sunday, October 14, 2012

Peristiwa Penting Selama di MTsN Palangkaraya


Selama belajar di MTsN Palangkaraya, hampir tidak ada hari bagiku tanpa kegiatan, mulai dari kumpul belajar bersama, aktifitas olahraga, OSIS maupun Pramuka, semua aku ikuti dengan antusias, bahkan untuk sepakbola, selain di sekolah aku juga mulai ikutan klub Alcan Raya, sempat ikut kompetisi divisi I/II Persepar (Palangkaraya) yang sebagian besar pemainnya adalah orang-orang muda di kegiatan pasar Palangkaraya, aku termasuk salah satu anggota termuda diantara anggota lainnya.

Ada beberapa peristiwa penting yang masih kuingat selama aku menempuh pendidikan di MTsN Palangkaraya yang menurutku sedikit banyaknya ikut mempengaruhi jalan hidupaku pada masa-masa berikutnya. Beberapa peristiwa itu diantaranya adalah :

Tahun 1986/1987 aku dipilih menjadi Ketua OSIS MTsN Palangkaraya, pengalaman pertamaku dalam sebuah organisasi formal yang menurutku menjadi dasar dan landasan keberanianku untuk berorganisasi di masa-masa selanjutnya.

Tidak begitu lama setelah terpilih, terjadi peristiwa kebakaran Pasar Baru Palangkaraya yang sangat dahsyat yang korbannya sebagian adalah orang tua teman-temanku di MTsN Palangkaraya yang berdagang di Pasar Baru tersebut, salah satunya termasuk orang tuaku.

Sesaat sebelum kebakaran terjadi, aku masih di toko orang tuaku yang berjualan kelapa dan jasa parut kelapa, untuk mendengarkan lagu-lagu sebelum pulang ke rumah. Jam 20.00 Wib, aku pulang dan sampai di rumah langsung merebahkan badan untuk tiduran. Sekitar jam 21.00, saudara sepupuku datang ke rumah membawa kabar kebakaran pasar, aku segera bangun dan bergegas sambil berlari mendahului orang tuaku menuju lokasi kebakaran sambil berharap masih ada yang bisa diselamatkan dari toko orang tuaku. Kebetulan toko orang tuaku bersebelahan dengan toko Pak Lik-ku dan berhadapan dengan toko Pak De-ku dalam satu gang/lorong atau los yang sama.

Begitu sampai di dekat lokasi kebakaran, aku menyaksikan api yang sudah sangat besar menghabiskan hampir seluruh bangunan pasar termasuk bagian di daerah toko orang tuaku dan Pak Lik serta Pak De-ku. Perasaanku seakan hancur dan tubuhku terasa lemas menyaksikan ‘kehancuran’ tersebut seakan masih jelas dalam bayanganku sekitar satu jam yang lalu aku masih disitu, seandainya saja......Tapi semua sudah terjadi. Aku segera sadar dan teringat orang tuaku yang masih berjalan menuju ke pasar, aku berusaha mencari beliau, mengkhawatirkan keadaan beliau menghadapi habisnya mata pencaharian keluarga. Aku takut sesuatu terjadi pada diri orang tuaku. Tapi alangkah terkejutnya aku, ketika bertemu dengan beliau, sebelum sempat aku berkata apapun, melihat aku menangis dengan segala bentuk kekhawatiranku, beliau berucap : “Ngapain kamu tangisi lagi, yang sudah terjadi biarlah terjadi, semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa, kamu menangis sekeras apapun tidak akan mengembalikan yang sudah habis” Aku tersentak, tidak pernah membayangkan orang tuaku mengatakan hal tersebut, aku yang semula begitu khawatir terhadap keadaan beliau malah menjadi malu, karena justru aku yang nggak kuat menyaksikan musibah yang menimpa keluargaku tersebut.

Beberapa hari setelah peristiwa kebakaran tersebut, di sekolah aku dipanggil Pembina OSIS-ku untuk mengumpulkan dana solidaritas siswa untuk siswa-siswi yang orang tuanya menjadi korban kebakaran tersebut. Setelah terkumpul, aku kemudian dipanggil lagi untuk membuat klasifikasi diantara para korban tersebut menjadi korban berat, sedang dan ringan. Sebagai Ketua OSIS yang sekaligus juga sebagai salah seorang yang orang tuanya menjadi korban aku sempat bingung untuk memasukan keluargaku dalam klasifikasi tersebut. Karena kalau dilihat dari segi jumlah kerugian, apa yang diderita orang tuaku mungkin tidak sebesar yang lain, karena yang dimiliki orang tuaku hanya toko kecil, jualan kelapa yang tidak seberapa harganya dibandingkan korban lain yang berisi toko beras, kain, perhiasan emas dan sebagainya. Tetapi di sisi lain, meskipun nilainya kecil, toko tersebut adalah harapan satu-satunya untuk kehidupan keluarga, mungkin yang lain masih punya toko atau usaha lain yang bisa dipakai untuk penopang kehidupan keluarga mereka selanjutnya. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan musyawarah diantara pengurus serta guru-guru pembinan, penyaluran bantuan tersebut berhasil dilaksanakan dan paling tidak sebagai wujud kepedulian sekolah atas musibah tersebut dengan harapan ikut membantu meringankan penderitaan korban bencana kebakaran tersebut

Kejadian lain di MTsN Palangkaraya yang sempat mengusik perasaanku adalah ketika pelaksanaan Porseni Madrasah se Kalimantan Tengah di Palangkaraya. Aku ikut beberapa cabang lomba, salah satunya adalah Cerdas Cermat Al-Qur’an. Aku bersama dua orang temanku mewakili MTsN Palangkaraya dan keluar sebagai pemenang pertama, tetapi adalah salah satu official atau Kepala Madrasah dari Kabupaten lain yang kemudian memprotes kemenangan tersebut dengan menuduh aku bukan siswa MTsN Palangkaraya tetapi siswa sekolah lain yang diikutkan untuk memperkuat regu secara ilegal. Betapa aku sempat begitu emosional mendengar “tuduhan” yang tidak berdasar tersebut, setelah diproses melalui dokumen yang diserhakan ke panitia, akhirnya regu kami tetap dinyatakan sebagai pemenang lomba tersebut karena memang tuduhan atau protes tersebut tidak terbukti. Dan anehnya lagi, atau sebagai ‘balasan’ selanjutnya, orang yang menuduh tersebut beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Kepala MTsN Palangkaraya meskipun aku sudah menyelesaikan pendidikan disana, ketika ke Palangkaraya aku sempatkan ‘mampir’ mengunjungi beliau untuk mengingatkan peristiwa masa lalu tersebut.

Peristiwa lain juga berkaitan dengan soal lomba Cerdas Cermat Al-Qur’an yang memang hampir selalu aku ikuti sejak tingkat MI hingga MAN. Terjadi di penghujung masa belajarku di MTsN Palangkaraya kelas III di akhir tahun 1987. Pada MTQ Tingkat Kotamadia Palangkaraya, aku bersama dua temanku seperti biasa mewakili sekolah dan menjadi pemenang CCQ Tingkat Kotamadia tersebut untuk tingkat MTs/SMP. Karena untuk MTQ Tingkat Propinsi hanya memperlombakan CCQ Tingkat Aliyah/SLTA, maka regu kami tidak diikutsertakan karena yang akan mewakili Kotamadia adalah regu MAN Palangkaraya sebagai pemenang di tingkat Aliyah/SLTA.

Menjelang pelaksanaan MTQ Tingkat Propinsi Kalimantan Tengah tersebut, melalui pembinaku di MTsN, aku diberitahu untuk ikut serta persiapan regu CCQ bergabung dengan teman-teman dari MAN Palangkaraya. Sebagai siswa yang diberi tugas, aku ikut saja dan mematuhi perintah tersebut walaupun ada perasaan tidak enak dengan rekan-rekan setimku di MTsN Palangkaraya terlebih lagi dengan salah satu anggota regu CCQ MAN Palangkaraya yang aku gantikan. Persiapan terus berlangsung dan lomba pun dilaksanakan. Regu Kotamadia yang salah satunya aku sebagai  anggotanya cuma berhasil menjadi juara kedua. Namun kemujuran kembali berpihak kepadaku, aku dipanggil lagi untuk bergabung mengisi salah satu anggota regu CCQ dari tim juara yang akan dipersiapkan mengikut MTQ Nasional di Lampung 1988. Perasaanku bercampuraduk antara senang dan juga tidak enak hati dengan rekan setimku di Kotamadia Palangkaraya, datang sebagai pengganti malah aku yang kembali dipilih. Aku berusaha menepis perasaan tersebut, toh yang menentukan bukan aku, para juri dan officiallah serta pembinanlah yang memilih dan menentukan dengan berbagai pertimbangan mereka masing-masing. Akhirnya aku bersama tim bernagkat sebagai anggota Kafilah Kalimantan Tengah pada MTQ Nasional XV di Lampung Tahun 1988 dan pulang ke Palangkaraya sebagai Juara Harapan II (Peringkat V Nasional) untuk cabang CCQ.

Berkat prestasi dan keberhasilan di MTQ Nasional tersebut, banyak hadiah yang kudapat dan yang terpenting sebenarnya adalah diberikannya kesempatan bagiku untuk meneruskan sekolah sesuai dengan keinginanku di Palangkaraya. Hal itu dimungkinkan terjadi karena relasi yang baik telah terbangun diantara para official, pembina dan guru baik di lingkungan MTsN Palangkaraya, MAN Palangkaraya, maupun Kanwil Depag serta Kanwil Depdikbud ketika itu.

Tapi apa hendak dikata, aku akhirnya menentukan untuk berangkat sekolah ke Yogyakarta mencoba sesuatu yang baru bagiku dengan meninggalkan segala kemudahan dan cerita manis di sekolahku, di kotaku Palangkaraya, untuk belajar memasuki dunia baru yang begitu asing, tetapi sudah menjadi pilihanku untuk memulai kehidupan baruku meskipun aku harus memulainya dari titik terendah sekalipun, tetapi karena sudah merupakan pilihan hidupku maka aku harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Meskipun pada akhirnya, pahit dan getir kehidupan harus aku alami di tanah orang, tapi aku tetap bersyukur dapat tetap bertahan hidup dan mempertanggung jawabkan pilihanku tersebut.

Friday, October 12, 2012

Pendidikan Lanjutanku


Setamat pendidikan dasar di MIS NU Palangkaraya, aku kemudian melanjutkan pendidikan di MTsN Palangkaraya yangberlokasi di Jl. AIS Nasution Palangkaraya, dekat dengan Stadion Sanaman Mantikai, Perpustakaan Wilayah, Kementerian Agama Kotamadia Palangkaraya dan bersebelahan dengan SMAN 1 Palangkaraya dan SMK Keguruan Olahraga (dulu SGO) Palangkaraya.

Menurutku, jika di tingkat dasar kita benar-benar dibekali dengan pengetahuan, sikap, tingkah laku dan segala hal yang bersifat mendasar sebagai landasan untuk pengembangan watak dan kepribadian di masa yang akan datang, maka implementasi dari apa yang kita peroleh di pendidikan dasar tersebut mulai kita temui dan kita praktekan secara bertahap dimulai dari pendidikan tingkat lanjutan pertama kita.

Jika di tingkat dasar sebagian besar kita hanya diajari, maka sejak pendidikan lanjutan kita mulai bisa belajar sendiri. Demikian juga halnya dalam hal bermain dan pertemanan, jika di SD kita sekolah belajar dan bermain serta berinterkasi dengan teman sepermainan, maka mulai tingkat SLTP/SMP kita mulai memilah-milah jenis permainan yang sesuai dengan usia kita, sesuai dengan bakat dan minat kita serta kemampuan kita. Dalam hal pertemanan juga demikian, kita tidak lagi hanya sekedar berteman untuk bermain, tetapi mulai bisa belajar memahami dan memaknai arti sebuah pertemanan, persahabatan dan kita mulai mengklasifikasikan atau mengelompokkan teman-teman kita, misalnya sebagai teman bermain, teman berkumpul, teman belajar atau teman apapun menurut anggapan kita masing-masing meskipun kadang-kadang orangnya mungkin juga sama.

Hal ini sesuai dengan perkembangan tingkat usia dan kemampuan berfikir serta adaptasi kita dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas dan lebih kompleks dari tingkatan sekolah dasar yang dulu kita lalui. Dan biasanya mulai tingkatan ini pula kita bisa menilai dan memperhatikan lawan jenis kita meskipun pada tahap yang sangat awal dan sangat sederhana. Meskipun kadang-kadang bagi sebagian orang, di tingkat dasarpun sudah mengenal atau memperhatikan lawan jenis kita, tetapi biasanya masih dalam batas dijodoh-jodohkan teman-teman kita tanpa ada kesengajaan dari kita.

Kembali ke kisah sekolahku di MTsN palangkaraya. Aku masuk atau diterima di MTsN Palangkaraya tahun 1985 bersama sekitar 30an orang dari teman-temanku di MIS NU yang juga melanjutkan sekolah disana, jadi setidaknya aku akan kembali bertemu dengan sebagian teman-teman lamaku diantara sekian banyak teman baru di sekolah yang baru.

Teman-temanku dari MIS NU Palangkaraya yang juga melanjutkan ke MTsN Palangkaraya antara lain yang masih ingat nama-namanya adalah Dahliani, Salmiah, Tajudinoor (Tajudinoor Asra), Syaifullah, Bahriannoor, Fitriadi, Haris Fadillah, Rahmat Fahmi, Siti Hafsah, Erni Rosidah, dll.

Di kelas I aku ditempatkan di kelas I A dengan Wali Kelas di Semester I adalah Bapak Drs. Mukhtar Ar sedangkan di Semester II Wali Kelasnya adalah Bapak Samzaeni. Berdasarkan hasil nilai Buku Rapor MTsN Palangkaraya yang masih aku simpan dan aku dokumentasikan hingga sekarang, berdasarkan pembagian raport tgl 4 Juni 1986 aku dinyatakan naik ke kelas II dengan nilai rata-rata Semester I adalah 8, sedangkan Semester II 8,3 sebagai ranking I di kelas I A. Aku lupa siapa saja teman-temanku yang sekelas di kelas I A tersebut.

Naik kelas II aku menempati Kelas II D, salah satu teman sekelasku di II D yang masih aku ingat hingga sekarang adalah Rusmansyah (Rusmansyah Kameeswara) yang kemudian juga menjadi temanku untuk melanjutkan sekolah di Yogyakarta bahkan hingga IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Wali Kelasku di II D Semester I adalah Bapak Drs. Jamaluddin, sedangkan di Semester II adalah Bapak Drs. Saleh. Prestasi bagus masih dapat aku pertahankan dengan nilai rata-rata Semester I 8,2 dan Semester II 8,05 untuk naik ke kelas III sebagai rangking pertama.

Kelas III aku menempati Kelas III A dengan Wali Kelas adalah Ibu Dra. Tutut Sholehah, sekarang salah satu staff pengajar di STAIN Palangkaraya. Menurutku pengalamanku paling seru selama di MTsN Palangkaraya ada di Kelas III A tersebut yang membuat aku hampir hafal semua teman-teman sekelas, yang nantinya akan aku posting secara terpisah tentang itu.

Alhamdulillah di kelas III inipun aku masih sanggup mempertahankan prestasi belajarku dengan menempati ranking pertama dengan nilai rata-rata 8,1 baik untuk Seemester I maupun Semester II dan dinyatakan lulus pada tahun 1988.

Selama di MTsN Palangkaraya, hampir semua kegiatan sekolah aku ikuti secara aktif, mulai dari kegiatan olahraga, OSIS, Pramuka dan berbagai kegiatan lainnya. Bahkan pada tahun 1986-1987 pada saat duduk di kelas II aku menjadi Ketua OSIS MTsN Palangkaraya, organisasi resmi pertama yang aku pimpin secara formal.

Dalam hal belajar, aku berkumpul bersama Salmiah, Dahliani, Tajudinnoor, Mujibah, empat orang temanku yang seakan membentuk 5 sekawan yang sebenarnya masing-masing bersaing sangat ketat dalam hal rangking pelajaran di sekolah dan kami ber-4 kecuali Mujibah, sama-sama keluaran dari MIS NU Palangkaraya yang melanjutkan sekolah di MTsN Palangkaraya.

Dalam hal pertemanan, teman terakrabku di MTsN Palangkaraya adalah Syahrani , M. Fauzi dan Bahriannor di Kelas III A, ada juga yang beda kelas seperti Rusmansyah , Fitriadi Anang Kurihing, Marsako (Marsako Kp), Endang Hastuti, Fithratiyah, Hariyadi, M. Sidik, dll.  Sedangkan teman-teman kakak kelas yang aku kenal dan akrab antara lain adalah Syahrani (nama sama tapi kakak kelasku), Murjani, M. Rifani, Hendra Darmadi, Darmawatie Sandan, Rina Rusmalina, Ami Mastati dan Lusi Apriani. Kakak kelas diatasnya lagi antara lain adalah Faridah, Nur Ainawiyah, Ardiansyah dll.

Beberapa adik kelas yang sempat aku kenal dan sedikit akrab antara lain adalah Noormansyah, Khairullah, Monses Fiatna, Qoyyimah, Fitriani, AanAbida Wasilah, Tri Wahyu Ningsih, dll. Beberapa kakak kelasku yang dulu kukenal sangat aktif di Pramuka antara lain adalah Syaiful Bahri, M. Lilis, Sujatmi, M. Iqbal, dll.

Orang-orang yang berjasa besar sebagai guru-guruku di MTsN Palangkaraya antara lain adalah Dra. Hj. Apong Atikah, Kepala Sekolah yang kemudian digantikan Bapak Drs. Yusran Hasani, Ibu Dra. Tutut Sholehah wali kelasku di III A, Ibu Badriyah guru Bahasa Arabku sekaligus Pembina OSIS-ku, Ibu Noorham guru Aqidah-Akhlaq-ku, Ibu Sujamsih, Bapak Rosyidi, Pak Samzaeni, Pak Joko Purwono, Ibu Anis, Bapak Bahrudin, Bapak Abdul Ghaffar (dulu Kepala TU) dan staf-stafnya seperti Ibu Rida, Ibu Nila dll. Mereka semua, mungkin masih ada yang lupa aku sebutkan satu persatu, adalah orang-orang yang berjasa membimbingku, memberikan pengaruh positif dalam salah satu babak kehidupanku ketika menempuh pendidikan di MTsN Palangkaraya.

Wednesday, October 10, 2012

Pengertian Akhlaq (Catatanku 29 Juli 1988)

Akhlaq menurut bahasa  bisa berarti watak, tabiat, kesusilaan, sopan santun. Sedangkan dari segi istilah, ada beberapa ahli yang mengungkapkan tentang definisi akhlaq tersebut, antara lain :

1.  Ibnu Athir dalam kitabnya An-Nihayah menjelaskan pengertian khuluq adalah gambaran batin manusia  
    yang tepat, yaitu jiwa dan sifat-sifatnya, sedangkan akhlaq merupakan gambaran bentuk luarnya, seperti 
    raut mukanya)

2. Ibnu Maskawaeh dalam kitabnya Tahdzibul Akhlaq merumuskan : 
حا ل النفس د ا عية لها إلي أفعا لها من غير فكر وروية    

    yaitu sikap jiwa seseorang yang mendorongnya melakukan perbuatan tanpa memikirkannya lebih dahulu

3. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menjelaskan tentang akhlaq :   
    الخلق عبا رة عن هيئة فى النفس راسخة عنها ثصد ر الأفعا ل بسهو لة ويسر من غير حاجة إلى فكر وروية
   Akhlaq adalah ungkapan tentang sikap (kemampuan) jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan 
   mudah dan tidak memerlukan pertimbangan/pikiran terlebih dahulu.


4. Prof. Farid Ma’ruf memberikan definisi tentang akhlaq adalah kehendak jiwa manusia yang menimbulkan 
    perbuatan dengan mudah karena kebiasaan tanpa memerlukan pertimbangan lebih dulu.

Sumber timbulnya akhlaq itu bisa berdasarkan nilai-nilai keagamaan bisa juga berdasarkan nilai non-agama. Akhlaq bisa berdasarkan nilai-nilai agama karena ajaran agama memberikan tuntunan, baik hubungan antara manusia dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia, sesama makhluk dan lingkungannya.

Sedangkan berdasarkan non-agama, akhlaq bisa muncul dari hasil insting (ghariizah), seperti insting manusia untuk mempertahankan diri, atau juga bisa timbul dari hasil pengalaman manusia, seperti adat kebiasaan.

Tuesday, October 9, 2012

Manajemen Kepemimpinan

Kelahiran konsep "manajemen ilmiah" ditandai oleh terbitnya buku The Principle of Scientific karya Frederick W. Taylor --seorang anggota sekte Quaker dan penganut aliran puritanisme-- pada tahun 1911 (M. Dawam Rahardjo, Etika Ekonomi dan Manajemen, Tiara Wacana, 1990, hlm.63-64). Namun perumusan mengenai prinsip-prinsip dasar manajemen yang sifatnya universal dan memberi pengertian yang lebih jelas tentang apa yang disebut manajemen itu baru dilakukan kemudian oleh seorang industrialis Prancis, Henry Fayol pada tahun 1916 melalui tulisannya Administration Industrielle et Generale yang menempatkan Fayol sebagai peletak dasar teori manajemen modern.

Fayol mengartikan "manajerial" secara umum sebagai administrasi perusahaan meliputi seluruh kegiatan perusahaan, sedangkan arti khusus yang bersifat manajerial hanya meliputi perencanaan, pemberian perintah atau komando, koordinasi dan kontrol atau pengawasan.

Prinsip-prinsip manajemen yang dimaksud Fayol adalah pembagian kerja, otoritas dan tanggung jawab, disiplin, kesatuan komando, kesatuan arah, ketundukan tiap-tiap individu kepada kepentingan bersama, pengupahan yang layak, desentralisasi kekuasaan, hierarki, ketertiban dan keteraturan, sikap baik terhadap bawahan, stabilitas staf, inisiatif dan semangat atau solidaritas kelompok.

Pengertian mengenai prinsip-prinsip manajemen dalam kerangka teori Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethic termasuk ke dalam teori organisasi atau teori birokrasi sebagai suatu struktur dari suatu organisasi yang besar dan kompleks. Sebaliknya dari sudut pandangan teori manajemen, birokrasi menurut pengertian Weber, dapat disebut sebagai "sistem manajemen" dengan ciri adanya peraturan dan pengaturan, hierarki dalam struktur otoritas, pembagian kerja dan prosedur (M. Dawam Rahardjo, Etika Ekonomi dan Manajemen", Tiara Wacana, Yogyakarta, 1990, hlm. 71).

Dalam ajaran Islam, konsep yang paling relevan bagi persoalan manajemen dan konsep tentang seorang manajer adalah doktrin tentang "Khalifah" (M. Dawam Rahardjo, Etika Ekonomi dan Manajemen", Tiara Wacana, Yogyakarta, 1990, hlm.100). Surah Al-Baqarah melukiskan konsep khalifah tersebut sebagai berikut : 

Dan tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : "Aku akan mengangkat seorang pengelola bumi" maka mereka berkomentar " Mengapa Engkau hendak menempatkan seorang pengelola yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa mensucikan Engkau dan memuji-Mu?" Maka Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku tahu tentang apa yang tidak kamu ketahui" Dan Dia mengajarkan kepada Adam, nama-nama benda seluruhnya dan kemudian menjelaskan itu kepada malaikat dan berfirman : "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu, jika kamu memang benar" Mereka menjawab : "Maha Suci Engkau, kami tidak mempunyai ilmu selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Tahu, Yang Maha Bijaksana" Dia berfirman : "Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka itu nama benda-benda itu" Maka setelah ia memberitahu kepada mereka nama benda-benda itu, Allah berfirman : "Bukankah telah Aku katakan kepada kamu bahwa Aku tahu apa yang tidak kelihatan oleh kamu (rahasia) langit dan bumi. Aku tahu apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan" (QS. Al-Baqarah : 30-33)

Penafsiran dari sudut ilmu manajemen akan merefleksikan pengertian bahwa yang disebut khalifah itu tidak lain adalah seorang manajer sumber-sumber kehidupan di bumi. Pengertian bahwa seorang khalifah itu pada hakekatnya adalah seorang "manager of resources" dapat dijelaskan dari protes para malaikat. Tabiat 'merusak' bisa dikaitkan dengan fungsi teknis dan tabiat "menumpahkan darah" berkaitan dengan fungsi sosial dalam konsep manajemen yang didasarkan pada teori Weber.

Dengan demikian, jika dikaitkan dengan tugas dan fungsi kekhalifahan, maka kualitas utama yang dibutuhkan seorang manajer menurut ajaran Islam adalah, pertama, melaksanakan amanat (an-Nisa : 58), kedua, mampu mengambil keputusan dengan cara yang benar (as-Shaad : 26). Konsep-konsep lain dalam Islam yang berhubungan dengan manajemen dan kepemimpinan antara lain adalah konsep adil, ihsan, shiddiq (kejujuran), jihad (bersungguh-sungguh), tabligh (berkomunikasi), serta amar ma'ruf nahi munkar.

Ketika berbicara mengenai Islam sebagai cita moral dan politik, Mohammad Iqbal, filsuf muslim terbesar awal abad XX itu dalam suatu ceramahnya pada tahun 1909 mengatakan bahwa setiap agama besar di dunia, memiliki anggapan dasar mengenai manusia, secara eksplisit ataupun implisit. Kisah keluarnya Adam dari jannah (yang secara konvensional diartikan sebagai surga), menurut pendapatnya bukanlah suatu 'kisah kejatuhan' manusia, melainkan justru simbol 'kebangkitan' manusia yang berhasil keluar dari kondisi primitif yang terbelenggu dalam naluri hewaninya, menuju kepada terbentuknya sebuah pribadi yang mulai menyadari potensi akalnya. Dengan akal itulah manusia mampu menjadi khalifah Allah di muka bumi dan menjadi pengelola alam lingkungannya. Tafsir seperti ini kemudian dijabarkan oleh Erich Fromm dengan Teori Psikoanalisa-nya sekitar tahun 1950-an (M. Dawam Rahardjo, Etika Ekonomi dan Manajemen", Tiara Wacana, Yogyakarta, 1990, hlm. 8).

Pendidikan Dasarku

Aku sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Palangkaraya yang terletak di Jl. Dr. Murjani Palangkaraya pada tahun 1979-1985. Sebagaimana kebanyakan sekolah agama pada masa itu, hari libur sekolah adalah hari Jum'at sedangkan sekolah negeri pada umumnya libur di hari Minggu. Di sekolah inilah aku diajari, dididik dan dibimbing oleh para guru dengan berbagai ilmu pengetahuan dasar dan akhlaq serta ajaran agama untuk tingkatan yang sangat dasar sebagai bekal untuk pendidikan ke jenjang selanjutnya.

Prestasi belajarku di sekolah dari kelas I hingga kelas III tergolong biasa-biasa saja, baru mulai kelas IV hingga kelas VI mulai sedikit berprestasi antara ranking 1-3 secara silih berganti bersaing dengan beberapa teman seangkatanku. Seperti kebanyakan anak seusiaku ketika itu, persoalan prestasi atau ranking di sekolah dasar tidak terlalu diperhatikan secara serius yang penting belajar dan bermain sesuai dengan perkembangan usia pada saat itu. Mungkin sedikit berbeda dengan kondisi zaman sekarang yang sudah sejak play group, TK hingga SD sudah sangat dibebani keinginan orang tua untuk berprestasi baik di sekolah sehingga kadang menjadi beban tersendiri bagi si anak.

Seingatku, waktu sekolah dasar itu aku hampir tidak pernah memikirkan ranking atau prestasi yang penting adalah bermain dan belajar agar dapat naik kelas dan yang terpenting jangan sampai tidak naik kelas. Itu aja. Selebihnya ya belajar, bermain, berteman dan berinteraksi dengan lingkungan sekolah.

Teman-teman seangkatanku di MIS NU yang masih aku ingat antara lain adalah Tajudinnor Asra, Dahliani, Salmiah, Syahrani, Siti Hafsah, Rahman A, Bahriannoor, Rahmat Fahmi, Misuri, Haris Fadilah, Erni Rosidah, Siti Mahmudah, M. Mabarun, Syaifullah, Kamsiah, Junaidah, Nahrawi dll. Sementara beberapa kakak kelas yang aku ingat antara lain Syahrani, Abdul Kadir, M. Rifani.

Aku berterima kasih kepada guru-guruku di sekolah itu yang telah memberikan bimbingan, mendidik dan mengasuh aku dan teman-teman sejak kecil hingga bisa menyelesaikan sekolah dan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Beberapa nama guruku yang masih kuingat dan berjasa besar dalam pembentukan dasarku di sekolah waktu itu antara lain adalah Ibu Ainun Jariyah, Bapak Abdul Muis, Ibu Asyiah, Bapak Basuni Abdan, Bapak Hadrani, Ibu Masayu, dll.

Sekilas Aku

Aku lahir di pedalaman Kalimantan Selatan, tepatnya di sebuah desa kecil bernama Bubuas, Kecamatan Candi Laras Utara Kabupaten Tapin Kalsel di akhir tahun 1970. Aku tinggal disana bersama keluarga hingga usia 7 tahunan. Sekitar tahun 1978, keluargaku meninggalkan desa kelahiranku mencoba peruntungan ke kota Palangkaraya Kalimantan Tengah. Banyak kenangan masa kecil yang tertinggal di desa kelahiranku selama aku hidup sekitar 7 tahun di sana. Hingga saat postingan ini aku buat, belum sekalipun aku menjejakkan langkahku lagi ke bumi kelahiranku, betapa pun aku sangat merindukannya dan ingin mengetahui keadaan dan perkembangan kampung halamanku setelah sekian lama kutinggalkan.

Di Palangkaraya aku mulai sekolah tingkat dasar di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama dan lulus tahun 1985. Kemudian melanjutkan ke MTsN Palangkaraya 1985-1988. Di kota inilah aku tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang sangat sederhana dan seakan serba kekurangan walaupun segala macam jenis usaha atau pekerjaan telah diupayakan oleh bapak ibuku, mulai dari pembuat kerupuk, jualan kue, jualan es hingga mencoba membuka toko klontong termasuk juga jualan kelapa biji dan kelapa parut untuk memenuhi kebutuhan hidup keluargaku. Keluargaku hidup di rumah kontrakan mulai di Kampung Baru kemudian pindah ke Jl. Kalimantan di pinggiran Sungai Kahayan, kemudian pindah kontrakan lagi ke Pasar Kameloh hingga tahun 1988.

Setelah sekitar 10 tahun menetap di Palangkaraya, pertengahan tahun 1988, tepatnya setelah lulus MTsN Palangkaraya, aku memberanikan diri ikut seleksi masuk sekolah di Yogyakarta. Sejak tahun 1988 itulah aku berangkat ke Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah di MAPK yang berlokasi di MAN Yogyakarta 1 Jl. C. Simanjuntak 60 Yogyakarta, meninggalkan seluruh keluargaku, Bapak-Ibu dan 4 orang adik-adikku di Palangkaraya, termasuk seluruh keluargaku, guru-guruku, teman-teman sepermainan, teman-teman sekolah dan lingkungan yang telah aku jalani selama ini untuk mencoba sesuatu yang baru di luar kota, di lain pulau yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya, bahkan tidak pernah terbayangkan sedikitpun sebelumnya.

Seiring dengan keberangkatan ke Yogyakarta, tidak lama kemudian keluargaku pindah ke pedalaman Kalimantan Tengah untuk mencoba kehidupan baru di daerah pendulangan emas Hampalit, kemudian berpindah lagi ke kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur kemudian diakhir tahun 1998an kembali pulang dan menetap pinggiran Sungai Kahayan di Kota Palangkaraya.

Sementara aku memulai kehidupan baru di Yogyakarta, mulai di Wijilan dekat Alun-Alun Utara Yogyakarta, kemudian menetap di Asrama MAPK MAN Yk 1 hingga lulus tahun 1988. Dengan seizin keluarga, terutama pamanku (pakde) aku meneruskan kuliah di Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tahun pertama kuliah aku kontrak kamar di daerah Sapen Timur, tahun kedua pindah ke Sapen Barat dan sejak tahun ketiga tinggal di Asrama Putra IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta hingga lulus kuliah tahun 1998.

Mengingat keterbatasan kemampuan orang tuaku, selama sekolah hingga lulus kuliah (1988-1998) aku cuma sempat pulang kampung sebanyak 3 kali, yaitu tahun 1989 karena masih adaptasi dengan suasana kota yang baru, kemudian tahun 1992, setelah setahun kuliah dan terakhir tahun 1997 sebelum aku menyelesaikan kuliahku.

Tahun 2000 aku menikah dengan Tri Ulfah Susanti, lulusan Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adik angkatanku ketika masih mahasiswa. Resepsi pernikahanku dihadiri Bapak Ibuku serta 2 orang adikku dan Budheku yang untuk pertama kalinya menjejakkan kaki mereka ke tanah Jawa.

Tahun 2001, istriku mengalami keguguran dan kehilangan janin kembar berusia 4 yang dikandungnya. Di tahun itu juga, tepatnya 12 Nopember 2001 aku melanjutkan kuliah di Magister Management Program Pascasarjana UII Yogyakarta.

Tanggal 20 Mei 2002, istriku melahirkan seorang bayi laki-laki yang kemudian kami beri nama Faqih Jiddan Ilmi yang ternyata atas kehendak Allah Swt Sang Maha Kuasa cuma diberi usia 23 hari, kemudian meninggal dunia setelah 1 hari di rumah bersalin, kemudian 2 minggu di RSI Klaten serta seminggu di RS Sardjito Yogyakarta, tanpa sempat mampir ke rumah kecuali setelah meninggal dunia.

Tahun 2004, tepatnya tanggal 11 Mei 2004 aku merampungkan kuliah S-2 ku di MM UII Yogyakarta dan di akhir tahun mengajak istriku untuk pertama kalinya ke Palangkaraya tempat keluarga besarku tinggal.

Tahun 2005 aku kembali pulang ke Palangkaraya karena ibuku sakit dan meninggal dunia. Setahun kemudian 2006 aku kembali pulang ke Palangkaraya karena bapakku meninggal dunia berselisih 3-4 hari setelah istriku melahirkan anak kami Maulida Yauma Yusfa pada tanggal 26 April 2006, atau satu bulan setelah Gempa Yogyakarta 27 Maret 2006.

Sejak kelahiran anak kami Maulida Yauma Yusfa, 26 April 2006, yang sekarang masih menjadi anak tunggal kami berusia 6.5 tahun, aku sekeluarga menetap di Kemit Kwaren Ngawen Klaten Jateng daerah asal istriku bersama keluarganya hingga sekarang.