Setelah hampir tiga tahun
bergelut dengan berbagai aktifitas organisasi selama sekolah di MAN Yogyakarta
1, tahun 1991 aku lulus dan melanjutkan kuliah di Jurusan Peradilan Agama
Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Karena aktifitas organisasi
seakan sudah mendarah daging dalam kehidupanku, sejak masuk IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta pun aku terus melanjutkannya. Sejak masa Ospek, aku sudah mulai ikut
aktif di tingkat Fakultas, terutama di organisasi intra kampus. Di akhir tahun
1991 itu pula aku ikut Latihan Kader Dasar (LKD) –sekarang istilahnya jadi PKD,
Pelatihan Kader Dasar—untuk bergabung menjadi anggota baru organisasi ektra
kampus PMII Rayon Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga dan diakhir pelatihan
aku terpilih menjadi Sekretaris Korp Alumni Pelatihan tersebut.
Tahun 1992 aku semakin aktif di
kegiatan kampus dan menjadi anggota Kelompok Studi dan Bantuan Hukum (KSBH)
Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga. Di tahun 1992 itu pula aku banyak
“berguru” kepada para senior di PMII yang sedang sibuk mempersiapkan Pemilu
Mahasiswa untuk pertama kalinya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta setelah
sekian lama fakum kepengurusan organisasi kemahasiswaannya secara formal.
Hampir setiap rapat koordinasi di Kombes (sekretariat bersama, dulu) aku selalu
berusaha ikut hadir walaupun cuma untuk sekedar “mendengarkan” mengingat
statusku yang masih “bayi” untuk tingkatan mahasiswa, karena baru semster II.
Tapi justru dari pengalamanku secara langsung bergumul dengan para senior
itulah yang dikemudian hari menjadi bekal yang sangat berharga dan pengetahuan
yang tak ternilai harganya ketika aku terjun langsung dalam menghadapi dinamika
kehidupan kampus di tahun-tahun berikutnya.
Sejak Pemilu Mahasiswa tahun 1992
itu aktifitasku tidak lagi sebatas di Fakultas Syari’ah, tetapi juga ikut aktif
di kegiatan-kegiatan di tingkat Institut “membantu” para pengurus baru Senat
Mahasiswa Institut (SMI) yang baru terpilih dan terbentuk. Tahun 1992 itu juga aku ikut bergabung menjadi anggota
Ikatan Mahasiswa Syari’ah Indonesia yang menyelenggarakan berbagai kegiatan di
kampus putih ketika itu.
Sementara di PMII aku dijadikan
bendahara Rayon PMII Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Periode
1992-1993, setahun kemudian, untuk Periode 1993-1994 aku terpilih menjadi Ketua
Rayon PMII Fakultas Syari’ah dengan agenda besar adalah mempersiapkan
kader-kader terbaik PMII untuk Pemilu Mahasiswa tahun 1994 disamping berbagai
agenda rutin lainnya terutama pelaksanaan LKD.
Tahun 1993 aku bergabung dengan OG.
Al-Jami’ah, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta yang mewadahi mahasiswa-mahasiswi yang mempunyai kegemaran, bakat
dan minat di bidang musik, khususnya musik kasidah dan dangdut di kampus putih.
Tahun 1994 melalui Pemilu
Mahasiswa aku terpilih sebagai Ketua Senat Mahasiswa Institut (SMI) IAIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta untuk Periode 1994-1996 hasil kerja keras teman-teman PMII
Komisariat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama seluruh Pengurus Rayon PMII
di masing-masing Fakultas. Di tingkat rayon, kepengurusan Rayon PMII Fakultas
Syari’ah juga berhasil mengantarkan kader-kader terbaiknya ketika itu seperti
Zaini Rahman, Andy Syarifuddin, Anang Chairul Mujab, Abd Fattach, Nur Hasyim
(Boim) dll, untuk memenangkan pertarungan di Pemilu Mahasiswa tersebut dan
menduduki hampir seluruh jabatan strategis di organisasi kemahasiswaan di
tingkat Fakultas maupun Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) di masing-masing
Jurusan.
Dapat dikatakan sejak tahun 1993
hingga diakhir kepengurusan tahun 1996, aktifitasku selain kuliah ada di tiga
organisasi utama, yaitu PMII untuk kegiatan ekstra kampus, SMI untuk intra
kampus dan OG. Al-Jami’ah untuk pengembangan bakat dan kegemaran, di samping
berbagai macam organisasi atau kumpulan lain di tingkat Fakultas maupun
Institut.
Tahun 1996-1997 aku didaulat
untuk menjadi Ketua UKM OG. Al-Jami’ah sambil berangsur-angsur mengurangi
aktifitasku di organisasi, baik di PMII maupun intra kampus untuk lebih
memfokuskan penyelesaian kuliahku.
Berbagai macam cerita,
pengalaman, suka-duka, pahit manisnya organisasi telah aku rasakan dan aku
alami selama menjadi mahasiswa, mulai tahun 1992, terutama sejak tahun 1993
hingga 1997, bahkan sampai tahun 1998 ketika Indonesia bergejolak pun jiwa
aktifis kita kembali bangkit untuk mendampingi teman-teman kita di organisasi
formal. Namun dari sekian banyak peristiwa semasa menjadi aktifis kegiatan
kemahasiswaan, paling tidak ada tiga peristiwa penting yang aku terlibat secara
langsung dan sedikit banyaknya ikut mempengaruhi langkah kehidupanku di masa
berikutnya.
Tahun 1992 : Demonstrasi
besar-besaran di Kampus Putih IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ketika SMI
dipimpin oleh Al-Zastrouw Ng. Melalui demonstrasi tersebut kemudian mahasiswa
berhasil menduduki Kantor Rektorat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan
membatalkan jadwa ujian semester dengan salah satu aksinya adalah meng-alteko
seluruh gembok/kunci ruang kelas, atau ruang perkuliahan sehingga tidak bisa
dibuka dan ujian semester terpaksa dibatalkan.
Tahun 1996 : Pengurus SMI Periode
1994-1996 melakukan gugatan class action menggugat Rektor IAIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta ke PTUN atas kesemrawutan pengumuman dan penerimaan
mahasiswa baru IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 1996-1997. Aksi SMI tersebut
mendapat dukungan secara penuh dari PMII Komisariat IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta yang saat itu Ketua-nya adalah Suswati (Ushuluddin, sekarang istri
Kang Jadul Maula). Beberapa kali SMI bertemu langsung dengan pihak Rektorat di
Sidang PTUN Semarang dan sejak saat itulah hubungan antara SMI dengan Rektorat
menjadi buruk dan kisruh.
Tahun 1997 : Aku bergabung ke
komunitas musik Ki Ageng Ganjur yang dibentuk oleh Al-Zastrouw Ng bersama
beberapa teman, kemudian hampir sepanjang tahun 1997-1998 dengan group musik
tersebut melakukan Istighotsah keliling ke berbagai daerah menyikapi
perkembangan sosial politik kebangsaan yang semakin panas dan semrawut hingga
akhirnya meletus peristiwa 27 Juli 1998.
Tiga peristiwa itulah yang
sedikit banyaknya ikut mempengaruhi perjalanan hidupku, saat itu maupun untuk
kehidupan yang akan datang. Peristiwa tahun 1992 membentuk kesadaran jiwa dan
semangat aktifisku untuk terus berjuang dan bergelut di dunia organisasi
kemahasiswaan, kemudian tahun 1996 menjadikan aku sebagai salah satu orang atau
musuh utama Rektorat yang seakan mencoreng rumah sendiri dan secara tidak
langsung aku dimasukkan daftar hitam untuk berbagai aktifitas di masa
berikutnya, sedangkan peristiwa tahun 1997 adalah titik balik perubahan jalur
kehidupanku dari hingar-bingar politik kampus, organisasi dan segala dinamikanya beralih ke dunia baru
melalui jalur musik dan kebudayaan sebagai media perjuangan dan kehidupan.
Mungkin itu merupakan buah dari aktifitasku di tiga organisasi berbeda dulu,
PMII di Ekstra, SMI di Intra dan OGA di bakat minat dan kegemaran.....Wallahu
a’lam.