Tuesday, November 6, 2012

“ Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Al-Qur’an “


Beberapa makna atau pengertian “manusia” dalam al-Qur’an :
Manusia dalam pengertian “Basyar”  adalah yang nampak dalam kelahiriahan, tergantung sepenuhnya pada alam, pertumbuhan dan perkembangan fisik tergantung dari makanan. Sedangkan manusia dalam pengertian “Insan” juga punya pertumbuhan dan perkembangan yang tergantung pada kebudayaan termasuk pendidikan.

Dengan demikian, manusia dalam pengertian “Basyar” adalah untuk menunjukkan pada dimensi alamiah yang merupakan ciri pokok manusia pada umumnya, seperti makan, minum, hidup dan mati. Sedangkan manusia sebagai “Insan” adalah untuk menunjuk pada kualitas pemikiran dan kesadaran dalam dimensi akal.

Selain kedua makna tersebut, manusia dalam Al-Qur’an juga disebut dengan “Nafs” yang berdimensi struktural antara Sang Khaliq dengan Makhluq. Dalam filsafat Islam “an-Nafs” diartikan sebagai jiwa (ruh). Hakekat ruh adalah bimbingan dan pimpinan Tuhan yang hanya diberikan kepada manusia, yang membedakannya dengan makhluk lainnya. Sedangkan dalam tahapan fungsionalnya manusia disebut sebagai “Khalifah”. Sementara itu, Aristoteles, memaknai jiwa sebagai “the soul” yang terbagi dua, the soul irrational dimiliki semua makhluk hidup, sedangkan the soul rational hanya dimiliki khusus oleh manusia.

Manusia juga disebut dengan kata “Abdun” atau “Abd” yang mempunyai dua dimensi. Manusia sebagai “abd” mempunyai arti positif di sisi Tuhan yaitu sebagai bentuk tunduk, taat dan patuh sebagai ciptaan Tuhan. Namun, di sisi manusia, kata “abd” tersebut berkonotasi negatif dalam hal perbudakan yang menghilangkan kemerdekaan dan menunjukkan adanya penindasan.

Manusia sebagai “Khalifah” mempunyai wewenang untuk menentukan pilihan secara bebas dengan menggunakan akal yang telah dikaruniakan kepadanya. Esensinya adalah kebebasan dan kreatifitas. Sedangkan manusia sebagai “Abd” tidak mempunyai wewenang, hilang kebebasan untuk berbuat karena esensi “Abd” adalah ketaatan dan kepatuhan.

Namun demikian, manusia sebagai Khalifah dan sebagai Abd tidaklah bertentangan karena sesungguhnya kekhalifahannya adalah realisasi dari pengabdiannya kepada Tuhan yang telah menciptakannya, bukan kepada yang lain.

Kesatuan fungsional manusia sebagai “insan” dan “basyar” adalah kesatuan “khalifah” dan “abd”. Sebagai “insan” manusia adalah “khalifah” sedangkan sebagai “basyar” manusia adalah “abd”.