Selama belajar di MTsN
Palangkaraya, hampir tidak ada hari bagiku tanpa kegiatan, mulai dari kumpul
belajar bersama, aktifitas olahraga, OSIS maupun Pramuka, semua aku ikuti
dengan antusias, bahkan untuk sepakbola, selain di sekolah aku juga mulai
ikutan klub Alcan Raya, sempat ikut kompetisi divisi I/II Persepar
(Palangkaraya) yang sebagian besar pemainnya adalah orang-orang muda di
kegiatan pasar Palangkaraya, aku termasuk salah satu anggota termuda diantara anggota
lainnya.
Ada beberapa peristiwa penting
yang masih kuingat selama aku menempuh pendidikan di MTsN Palangkaraya yang
menurutku sedikit banyaknya ikut mempengaruhi jalan hidupaku pada masa-masa
berikutnya. Beberapa peristiwa itu diantaranya adalah :
Tahun 1986/1987 aku dipilih
menjadi Ketua OSIS MTsN Palangkaraya, pengalaman pertamaku dalam sebuah
organisasi formal yang menurutku menjadi dasar dan landasan keberanianku untuk
berorganisasi di masa-masa selanjutnya.
Tidak begitu lama setelah
terpilih, terjadi peristiwa kebakaran Pasar Baru Palangkaraya yang sangat
dahsyat yang korbannya sebagian adalah orang tua teman-temanku di MTsN
Palangkaraya yang berdagang di Pasar Baru tersebut, salah satunya termasuk
orang tuaku.
Sesaat sebelum kebakaran terjadi,
aku masih di toko orang tuaku yang berjualan kelapa dan jasa parut kelapa,
untuk mendengarkan lagu-lagu sebelum pulang ke rumah. Jam 20.00 Wib, aku pulang
dan sampai di rumah langsung merebahkan badan untuk tiduran. Sekitar jam 21.00,
saudara sepupuku datang ke rumah membawa kabar kebakaran pasar, aku segera
bangun dan bergegas sambil berlari mendahului orang tuaku menuju lokasi
kebakaran sambil berharap masih ada yang bisa diselamatkan dari toko orang
tuaku. Kebetulan toko orang tuaku bersebelahan dengan toko Pak Lik-ku dan
berhadapan dengan toko Pak De-ku dalam satu gang/lorong atau los yang sama.
Begitu sampai di dekat lokasi
kebakaran, aku menyaksikan api yang sudah sangat besar menghabiskan hampir
seluruh bangunan pasar termasuk bagian di daerah toko orang tuaku dan Pak Lik
serta Pak De-ku. Perasaanku seakan hancur dan tubuhku terasa lemas menyaksikan
‘kehancuran’ tersebut seakan masih jelas dalam bayanganku sekitar satu jam yang
lalu aku masih disitu, seandainya saja......Tapi semua sudah terjadi. Aku segera
sadar dan teringat orang tuaku yang masih berjalan menuju ke pasar, aku
berusaha mencari beliau, mengkhawatirkan keadaan beliau menghadapi habisnya
mata pencaharian keluarga. Aku takut sesuatu terjadi pada diri orang tuaku.
Tapi alangkah terkejutnya aku, ketika bertemu dengan beliau, sebelum sempat aku
berkata apapun, melihat aku menangis dengan segala bentuk kekhawatiranku,
beliau berucap : “Ngapain kamu tangisi lagi, yang sudah terjadi biarlah
terjadi, semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa, kamu menangis sekeras apapun
tidak akan mengembalikan yang sudah habis” Aku tersentak, tidak pernah
membayangkan orang tuaku mengatakan hal tersebut, aku yang semula begitu
khawatir terhadap keadaan beliau malah menjadi malu, karena justru aku yang
nggak kuat menyaksikan musibah yang menimpa keluargaku tersebut.
Beberapa hari setelah peristiwa
kebakaran tersebut, di sekolah aku dipanggil Pembina OSIS-ku untuk mengumpulkan
dana solidaritas siswa untuk siswa-siswi yang orang tuanya menjadi korban
kebakaran tersebut. Setelah terkumpul, aku kemudian dipanggil lagi untuk
membuat klasifikasi diantara para korban tersebut menjadi korban berat, sedang
dan ringan. Sebagai Ketua OSIS yang sekaligus juga sebagai salah seorang yang
orang tuanya menjadi korban aku sempat bingung untuk memasukan keluargaku dalam
klasifikasi tersebut. Karena kalau dilihat dari segi jumlah kerugian, apa yang
diderita orang tuaku mungkin tidak sebesar yang lain, karena yang dimiliki
orang tuaku hanya toko kecil, jualan kelapa yang tidak seberapa harganya
dibandingkan korban lain yang berisi toko beras, kain, perhiasan emas dan
sebagainya. Tetapi di sisi lain, meskipun nilainya kecil, toko tersebut adalah
harapan satu-satunya untuk kehidupan keluarga, mungkin yang lain masih punya
toko atau usaha lain yang bisa dipakai untuk penopang kehidupan keluarga mereka
selanjutnya. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan musyawarah diantara
pengurus serta guru-guru pembinan, penyaluran bantuan tersebut berhasil
dilaksanakan dan paling tidak sebagai wujud kepedulian sekolah atas musibah
tersebut dengan harapan ikut membantu meringankan penderitaan korban bencana
kebakaran tersebut
Kejadian lain di MTsN
Palangkaraya yang sempat mengusik perasaanku adalah ketika pelaksanaan Porseni
Madrasah se Kalimantan Tengah di Palangkaraya. Aku ikut beberapa cabang lomba,
salah satunya adalah Cerdas Cermat Al-Qur’an. Aku bersama dua orang temanku
mewakili MTsN Palangkaraya dan keluar sebagai pemenang pertama, tetapi adalah
salah satu official atau Kepala Madrasah dari Kabupaten lain yang kemudian
memprotes kemenangan tersebut dengan menuduh aku bukan siswa MTsN Palangkaraya
tetapi siswa sekolah lain yang diikutkan untuk memperkuat regu secara ilegal.
Betapa aku sempat begitu emosional mendengar “tuduhan” yang tidak berdasar tersebut,
setelah diproses melalui dokumen yang diserhakan ke panitia, akhirnya regu kami
tetap dinyatakan sebagai pemenang lomba tersebut karena memang tuduhan atau
protes tersebut tidak terbukti. Dan anehnya lagi, atau sebagai ‘balasan’
selanjutnya, orang yang menuduh tersebut beberapa tahun kemudian diangkat
menjadi Kepala MTsN Palangkaraya meskipun aku sudah menyelesaikan pendidikan
disana, ketika ke Palangkaraya aku sempatkan ‘mampir’ mengunjungi beliau untuk
mengingatkan peristiwa masa lalu tersebut.
Peristiwa lain juga berkaitan
dengan soal lomba Cerdas Cermat Al-Qur’an yang memang hampir selalu aku ikuti
sejak tingkat MI hingga MAN. Terjadi di penghujung masa belajarku di MTsN
Palangkaraya kelas III di akhir tahun 1987. Pada MTQ Tingkat Kotamadia Palangkaraya,
aku bersama dua temanku seperti biasa mewakili sekolah dan menjadi pemenang CCQ
Tingkat Kotamadia tersebut untuk tingkat MTs/SMP. Karena untuk MTQ Tingkat
Propinsi hanya memperlombakan CCQ Tingkat Aliyah/SLTA, maka regu kami tidak
diikutsertakan karena yang akan mewakili Kotamadia adalah regu MAN Palangkaraya
sebagai pemenang di tingkat Aliyah/SLTA.
Menjelang pelaksanaan MTQ Tingkat
Propinsi Kalimantan Tengah tersebut, melalui pembinaku di MTsN, aku diberitahu
untuk ikut serta persiapan regu CCQ bergabung dengan teman-teman dari MAN
Palangkaraya. Sebagai siswa yang diberi tugas, aku ikut saja dan mematuhi
perintah tersebut walaupun ada perasaan tidak enak dengan rekan-rekan setimku
di MTsN Palangkaraya terlebih lagi dengan salah satu anggota regu CCQ MAN
Palangkaraya yang aku gantikan. Persiapan terus berlangsung dan lomba pun
dilaksanakan. Regu Kotamadia yang salah satunya aku sebagai anggotanya cuma berhasil menjadi juara kedua.
Namun kemujuran kembali berpihak kepadaku, aku dipanggil lagi untuk bergabung
mengisi salah satu anggota regu CCQ dari tim juara yang akan dipersiapkan
mengikut MTQ Nasional di Lampung 1988. Perasaanku bercampuraduk antara senang
dan juga tidak enak hati dengan rekan setimku di Kotamadia Palangkaraya, datang
sebagai pengganti malah aku yang kembali dipilih. Aku berusaha menepis perasaan
tersebut, toh yang menentukan bukan aku, para juri dan officiallah serta
pembinanlah yang memilih dan menentukan dengan berbagai pertimbangan mereka
masing-masing. Akhirnya aku bersama tim bernagkat sebagai anggota Kafilah
Kalimantan Tengah pada MTQ Nasional XV di Lampung Tahun 1988 dan pulang ke
Palangkaraya sebagai Juara Harapan II (Peringkat V Nasional) untuk cabang CCQ.
Berkat prestasi dan keberhasilan
di MTQ Nasional tersebut, banyak hadiah yang kudapat dan yang terpenting
sebenarnya adalah diberikannya kesempatan bagiku untuk meneruskan sekolah
sesuai dengan keinginanku di Palangkaraya. Hal itu dimungkinkan terjadi karena
relasi yang baik telah terbangun diantara para official, pembina dan guru baik
di lingkungan MTsN Palangkaraya, MAN Palangkaraya, maupun Kanwil Depag serta
Kanwil Depdikbud ketika itu.
Tapi apa hendak dikata, aku
akhirnya menentukan untuk berangkat sekolah ke Yogyakarta mencoba sesuatu yang
baru bagiku dengan meninggalkan segala kemudahan dan cerita manis di sekolahku,
di kotaku Palangkaraya, untuk belajar memasuki dunia baru yang begitu asing,
tetapi sudah menjadi pilihanku untuk memulai kehidupan baruku meskipun aku
harus memulainya dari titik terendah sekalipun, tetapi karena sudah merupakan
pilihan hidupku maka aku harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut.
Meskipun pada akhirnya, pahit dan getir kehidupan harus aku alami di tanah
orang, tapi aku tetap bersyukur dapat tetap bertahan hidup dan mempertanggung
jawabkan pilihanku tersebut.
No comments:
Post a Comment