Sunday, October 14, 2012

Peristiwa Penting Selama di MTsN Palangkaraya


Selama belajar di MTsN Palangkaraya, hampir tidak ada hari bagiku tanpa kegiatan, mulai dari kumpul belajar bersama, aktifitas olahraga, OSIS maupun Pramuka, semua aku ikuti dengan antusias, bahkan untuk sepakbola, selain di sekolah aku juga mulai ikutan klub Alcan Raya, sempat ikut kompetisi divisi I/II Persepar (Palangkaraya) yang sebagian besar pemainnya adalah orang-orang muda di kegiatan pasar Palangkaraya, aku termasuk salah satu anggota termuda diantara anggota lainnya.

Ada beberapa peristiwa penting yang masih kuingat selama aku menempuh pendidikan di MTsN Palangkaraya yang menurutku sedikit banyaknya ikut mempengaruhi jalan hidupaku pada masa-masa berikutnya. Beberapa peristiwa itu diantaranya adalah :

Tahun 1986/1987 aku dipilih menjadi Ketua OSIS MTsN Palangkaraya, pengalaman pertamaku dalam sebuah organisasi formal yang menurutku menjadi dasar dan landasan keberanianku untuk berorganisasi di masa-masa selanjutnya.

Tidak begitu lama setelah terpilih, terjadi peristiwa kebakaran Pasar Baru Palangkaraya yang sangat dahsyat yang korbannya sebagian adalah orang tua teman-temanku di MTsN Palangkaraya yang berdagang di Pasar Baru tersebut, salah satunya termasuk orang tuaku.

Sesaat sebelum kebakaran terjadi, aku masih di toko orang tuaku yang berjualan kelapa dan jasa parut kelapa, untuk mendengarkan lagu-lagu sebelum pulang ke rumah. Jam 20.00 Wib, aku pulang dan sampai di rumah langsung merebahkan badan untuk tiduran. Sekitar jam 21.00, saudara sepupuku datang ke rumah membawa kabar kebakaran pasar, aku segera bangun dan bergegas sambil berlari mendahului orang tuaku menuju lokasi kebakaran sambil berharap masih ada yang bisa diselamatkan dari toko orang tuaku. Kebetulan toko orang tuaku bersebelahan dengan toko Pak Lik-ku dan berhadapan dengan toko Pak De-ku dalam satu gang/lorong atau los yang sama.

Begitu sampai di dekat lokasi kebakaran, aku menyaksikan api yang sudah sangat besar menghabiskan hampir seluruh bangunan pasar termasuk bagian di daerah toko orang tuaku dan Pak Lik serta Pak De-ku. Perasaanku seakan hancur dan tubuhku terasa lemas menyaksikan ‘kehancuran’ tersebut seakan masih jelas dalam bayanganku sekitar satu jam yang lalu aku masih disitu, seandainya saja......Tapi semua sudah terjadi. Aku segera sadar dan teringat orang tuaku yang masih berjalan menuju ke pasar, aku berusaha mencari beliau, mengkhawatirkan keadaan beliau menghadapi habisnya mata pencaharian keluarga. Aku takut sesuatu terjadi pada diri orang tuaku. Tapi alangkah terkejutnya aku, ketika bertemu dengan beliau, sebelum sempat aku berkata apapun, melihat aku menangis dengan segala bentuk kekhawatiranku, beliau berucap : “Ngapain kamu tangisi lagi, yang sudah terjadi biarlah terjadi, semua sudah kehendak Yang Maha Kuasa, kamu menangis sekeras apapun tidak akan mengembalikan yang sudah habis” Aku tersentak, tidak pernah membayangkan orang tuaku mengatakan hal tersebut, aku yang semula begitu khawatir terhadap keadaan beliau malah menjadi malu, karena justru aku yang nggak kuat menyaksikan musibah yang menimpa keluargaku tersebut.

Beberapa hari setelah peristiwa kebakaran tersebut, di sekolah aku dipanggil Pembina OSIS-ku untuk mengumpulkan dana solidaritas siswa untuk siswa-siswi yang orang tuanya menjadi korban kebakaran tersebut. Setelah terkumpul, aku kemudian dipanggil lagi untuk membuat klasifikasi diantara para korban tersebut menjadi korban berat, sedang dan ringan. Sebagai Ketua OSIS yang sekaligus juga sebagai salah seorang yang orang tuanya menjadi korban aku sempat bingung untuk memasukan keluargaku dalam klasifikasi tersebut. Karena kalau dilihat dari segi jumlah kerugian, apa yang diderita orang tuaku mungkin tidak sebesar yang lain, karena yang dimiliki orang tuaku hanya toko kecil, jualan kelapa yang tidak seberapa harganya dibandingkan korban lain yang berisi toko beras, kain, perhiasan emas dan sebagainya. Tetapi di sisi lain, meskipun nilainya kecil, toko tersebut adalah harapan satu-satunya untuk kehidupan keluarga, mungkin yang lain masih punya toko atau usaha lain yang bisa dipakai untuk penopang kehidupan keluarga mereka selanjutnya. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan musyawarah diantara pengurus serta guru-guru pembinan, penyaluran bantuan tersebut berhasil dilaksanakan dan paling tidak sebagai wujud kepedulian sekolah atas musibah tersebut dengan harapan ikut membantu meringankan penderitaan korban bencana kebakaran tersebut

Kejadian lain di MTsN Palangkaraya yang sempat mengusik perasaanku adalah ketika pelaksanaan Porseni Madrasah se Kalimantan Tengah di Palangkaraya. Aku ikut beberapa cabang lomba, salah satunya adalah Cerdas Cermat Al-Qur’an. Aku bersama dua orang temanku mewakili MTsN Palangkaraya dan keluar sebagai pemenang pertama, tetapi adalah salah satu official atau Kepala Madrasah dari Kabupaten lain yang kemudian memprotes kemenangan tersebut dengan menuduh aku bukan siswa MTsN Palangkaraya tetapi siswa sekolah lain yang diikutkan untuk memperkuat regu secara ilegal. Betapa aku sempat begitu emosional mendengar “tuduhan” yang tidak berdasar tersebut, setelah diproses melalui dokumen yang diserhakan ke panitia, akhirnya regu kami tetap dinyatakan sebagai pemenang lomba tersebut karena memang tuduhan atau protes tersebut tidak terbukti. Dan anehnya lagi, atau sebagai ‘balasan’ selanjutnya, orang yang menuduh tersebut beberapa tahun kemudian diangkat menjadi Kepala MTsN Palangkaraya meskipun aku sudah menyelesaikan pendidikan disana, ketika ke Palangkaraya aku sempatkan ‘mampir’ mengunjungi beliau untuk mengingatkan peristiwa masa lalu tersebut.

Peristiwa lain juga berkaitan dengan soal lomba Cerdas Cermat Al-Qur’an yang memang hampir selalu aku ikuti sejak tingkat MI hingga MAN. Terjadi di penghujung masa belajarku di MTsN Palangkaraya kelas III di akhir tahun 1987. Pada MTQ Tingkat Kotamadia Palangkaraya, aku bersama dua temanku seperti biasa mewakili sekolah dan menjadi pemenang CCQ Tingkat Kotamadia tersebut untuk tingkat MTs/SMP. Karena untuk MTQ Tingkat Propinsi hanya memperlombakan CCQ Tingkat Aliyah/SLTA, maka regu kami tidak diikutsertakan karena yang akan mewakili Kotamadia adalah regu MAN Palangkaraya sebagai pemenang di tingkat Aliyah/SLTA.

Menjelang pelaksanaan MTQ Tingkat Propinsi Kalimantan Tengah tersebut, melalui pembinaku di MTsN, aku diberitahu untuk ikut serta persiapan regu CCQ bergabung dengan teman-teman dari MAN Palangkaraya. Sebagai siswa yang diberi tugas, aku ikut saja dan mematuhi perintah tersebut walaupun ada perasaan tidak enak dengan rekan-rekan setimku di MTsN Palangkaraya terlebih lagi dengan salah satu anggota regu CCQ MAN Palangkaraya yang aku gantikan. Persiapan terus berlangsung dan lomba pun dilaksanakan. Regu Kotamadia yang salah satunya aku sebagai  anggotanya cuma berhasil menjadi juara kedua. Namun kemujuran kembali berpihak kepadaku, aku dipanggil lagi untuk bergabung mengisi salah satu anggota regu CCQ dari tim juara yang akan dipersiapkan mengikut MTQ Nasional di Lampung 1988. Perasaanku bercampuraduk antara senang dan juga tidak enak hati dengan rekan setimku di Kotamadia Palangkaraya, datang sebagai pengganti malah aku yang kembali dipilih. Aku berusaha menepis perasaan tersebut, toh yang menentukan bukan aku, para juri dan officiallah serta pembinanlah yang memilih dan menentukan dengan berbagai pertimbangan mereka masing-masing. Akhirnya aku bersama tim bernagkat sebagai anggota Kafilah Kalimantan Tengah pada MTQ Nasional XV di Lampung Tahun 1988 dan pulang ke Palangkaraya sebagai Juara Harapan II (Peringkat V Nasional) untuk cabang CCQ.

Berkat prestasi dan keberhasilan di MTQ Nasional tersebut, banyak hadiah yang kudapat dan yang terpenting sebenarnya adalah diberikannya kesempatan bagiku untuk meneruskan sekolah sesuai dengan keinginanku di Palangkaraya. Hal itu dimungkinkan terjadi karena relasi yang baik telah terbangun diantara para official, pembina dan guru baik di lingkungan MTsN Palangkaraya, MAN Palangkaraya, maupun Kanwil Depag serta Kanwil Depdikbud ketika itu.

Tapi apa hendak dikata, aku akhirnya menentukan untuk berangkat sekolah ke Yogyakarta mencoba sesuatu yang baru bagiku dengan meninggalkan segala kemudahan dan cerita manis di sekolahku, di kotaku Palangkaraya, untuk belajar memasuki dunia baru yang begitu asing, tetapi sudah menjadi pilihanku untuk memulai kehidupan baruku meskipun aku harus memulainya dari titik terendah sekalipun, tetapi karena sudah merupakan pilihan hidupku maka aku harus bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Meskipun pada akhirnya, pahit dan getir kehidupan harus aku alami di tanah orang, tapi aku tetap bersyukur dapat tetap bertahan hidup dan mempertanggung jawabkan pilihanku tersebut.

No comments:

Post a Comment